Armpit?

•15 Februari 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ada yang bilang kalo aroma ketiak laki-laki bisa bikin wanita merasa lebih lega…

Baca lengkapnya DISINI

Well, kalo untuk pria mencium aroma ketiak pria?

Wekks.. yang ada mual kali… (but in some circumstances, could be tempting lho…)

Smell Loses All

•15 Februari 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ini sebuah pengalaman yang baru aja gw alamin.

Meskipun gw sempat berkata bahwa gw pengen menjalani kehidupan berdasarkan ‘JALAN LURUS’, namun hati ini masih tergelitik dan tergoda saat ternyata gw memiliki kesempatan untuk ‘pijat’. Di lain pihak, gw memang pengen pijat karena badan ini terasa pegal-pegal. Namun di pihak lain, gw sengaja memilih pijet di tempat yang ‘biasa’… Kali aja ada yang ‘bagus’.

Di awal pijat, gw tidak menemukan siapa-siapa. Hanya gw sendiri. Well, di sebelah gw emang ada satu tamu yang lagi dipijet. Seorang chinese, dengan itu ukuran yang ‘kecil’, hairless, dan kurus. Not my type at all! Gw biarin aja dia mijet2, sibuk sendiri, namun tak gw perlihatkan bagian gw ke dia. Tidak.

Setelah usai pijat, tempat pijat itu begitu ’sepi’ tidak ada siapa-siapa. Akhirnya gw memutuskan untuk jalan pulang. Namun di perjalanan, tiba-tiba gw berpapasan dengan seseorang. Perawakannya gemuk dengan bekas cukuran. Pokoknya, tipe gw banget lah. Gw berpikir, apakah gw akan berputar balik atau enggak? Akhirnya gw putuskan untuk berputar balik, mengikuti orang itu yang sudah menghilang ke tempat pijat.

Gw naik, dan benarlah, dia bersiap-siap untuk dipijat. Gw segera menyelinap ke bilik sebelah biliknya, agar pada saat ruangan itu dikunci gw masih bisa bersama dia. Dan harapan gw terlaksana. Ia mulai dipijat, telungkup dan gw mengintip dari balik tirai, memberinya kode, “can i come in?” untungnya dia mengangguk. Yes!

Gw masuk ke bilik itu dan memandangi tubuhnya. Coklat. Gw mulai ciumi pantatnya, dan gw jadi sedikit shock begitu melihat bahwa ia memakai G string renda-renda. Oh My God, what is this? Tapi gw ga berkomentar apa-apa. Gw tetap ciumi dia. Abis gw ciumi, gw putuskan gw lepas seluruh baju gw dan gw tekan-tekan p*n*s gw ke tubuhnya. Akhirnya dia meminta sang tukang pijet untuk menghentikan sementara pijetan, dan kemudian ia membalikkan badannya sehingga gw bisa melihat nyaris semua tubuhnya (dan renda g-stringnya, tentu saja).

Gw mulai mainkan lidah gw ke tubuhnya, pertama ke nipple, kemudian ke perut, dan terakhir saat gw mengarahkan mulut gw untuk mengisap p*n*s-nya, dia menolak. Namun tidak menolak ketika gw menyedot zakarnya. Akhirnya gw bosen, gw coba lari ke putingnya, dan gw mengarah ke armpit-nya (alias ketiak) dan tiba-tiba….

armpit

Uppss?

What’s that smell?

What’s this sweat?

Oh my God, he’s kinda basket and bauket people!!!

Gairah gw tiba-tiba menurun, dan mungkin dia pun menyadarinya, dia memanggil tukang pijat itu untuk memijatnya dan membalikkan badan. Gw pun juga udah ga berminat lagi. Gw buru-buru mengenakan pakaian gw, mengucapkan terima kasih karena telah mau menerima gw masuk, dan gw pun keluar dari ruangan pijat.

Smell makes me loses my appetite…
Wekks!!!

Massage Center

•11 Februari 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Massage Boy

Seperti yang udah aku bahas di tulisanku sebelumnya, kali ini aku hanya ingin sedikit berbagi.. dimanakah aku menemukan para profesional-profesional muda yang membantuku untuk mengincipi sedikit rasa keju dari mereka… wahai diriku sang tikus garong?

Tidak perlu bingung mencari…

Aku biasanya menemukannya di Massage Center… alias Panti Pijat.

Lebih mudah, bisa diprediksi harganya, you can even pick your own massage boy…
Langgananku biasanya ada 3 (tiga) tempat. Masing-masing punya keunikan tersendiri. Mari kujelaskan disini.

[Tempat Pertama]
Aku menemukan tempat ini di lembaran koran yang kubeli di pojokan lampu merah. Tempatnya menempati sebuah rumah kontrakan dengan 2 (dua) kamar. Aku ga pernah menemukan tukang pijat lain selain satu orang itu, dan aku tidak pernah kecewa dengan pijetannya. Pijetnya enak dan p*n*s-nya lumayan gede. Rasanya bisa merem melek kalo lagi di t*mp* ama dia.
Point Plus-nya: satu hari pernah datang kesana, lagi dit*mp* tiba-tiba datang satu customer yang tipe-ku banget. Akhirnya aku mengundang dia untuk ikutan, dan diapun setuju.. What a nice moment… Sayang, aku jarang menemukan moment ini lagi…

[Tempat Kedua]
Tidak begitu jauh dari tempat pertama, dengan jasa pemijat yang berbeda-beda. Aku pernah nemu satu tukang pijet yang ukurannya gede banget (sampai pusing dan mules)! Tapi, aku sendiri sebenarnya tidak menemukan apa-apa yang menarik (karena meski itunya gede, tapi orangnya kurus), selain tempat pijatnya yang juga menjadi tempat pijat umum, sehingga membuat aku bisa menengok aktivitas di kamar sebelah. Kalau beruntung, aku bisa melihat tetangga lain Making Love or kalo tidak begitu beruntung, bisa lihat t*t*t orang saat dipijet. Very nice…

[Tempat Ketiga]
ada satu tempat yang merupakan tempat pijat yang dilakukan oleh tuna netra. namun semua pengunjungnya adalah kaum [begini] . terkadang, saat dipijat, kita bisa melihat tetangga sebelah yang dipijat secara bugil. kalau beruntung dan tetangga sebelah itu cocok dengan selera kita, usai dipijat kita bisa melanjutkan ke level yang lebih. lumayan, orangnya ga itu-itu aja.

Hmmm.. gimana?

Mungkin agak heran, kenapa kok tulisan ini sepertinya bertentangan dengan tulisan saya sebelumnya yang berjudul JALAN LURUS . Tulisan ini saya buat sebelum saya menulis JALAN LURUS, dan sudah lama tersimpan di draft, hingga akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan tulisan ini. Maaf ya…

Selingan dengan Iklan

•11 Februari 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ada kesempatan untuk ke luar kantor hari ini.. Segera gw manfaatin, mumpung lokasi yang dituju juga ga jauh dari tempat pijat langganan gw itu. Setelah urusan kantor kelar, gw sms orang kantor, gw bakalan agak sore balik ke kantor, disini macet! Hahahaha.. enak juga tinggal di kota kemacetan ini! Bisa punya banyak alasan untuk tidak kembali ke kantor cepat-cepat.

Dengan menggunakan kendaraan umum, gw akhirnya sampai juga ke tempat pijet itu. Lagi sepi ternyata. Tapi buat gw ga masalah. Segera gw diberikan satu room, yang ternyata di sebelahnya juga terisi orang. Gw intip sejenak, tu orang ternyata dah bugil, dan telungkup sambil dipijit. Orangnya pendekar gitu lah, pendek dan kekar. Karena dia udah bugil, so otomatis gw mencopoti seluruh pakaian gw sampai gw jadi kayak bayi lagi (alias total naked) n berbaring di tempat pijet gw itu, telungkup dan siap untuk dipijet.

Tangan bapak tua itu memijit gw dengan nyaman, dan gw terhanyut oleh suara musik dari headset-ku, tiba-tiba ku dengar suara tirai pembatas gw dan si orang sebelah itu tersibak. Gw menoleh, dan terkejut mendapati si pendekar itu sudah berdiri disana, telanjang, dan dengan itunya yang siap menerjang (meski tetap lebih besar punya gw). Gw terkesima, melihat bentuk badannya yang bagus, hairy, meski mukanya agak kuranglah, menurut gw. Tapi yang pasti, itunya yang tegang ke atas itu membuat gw sedikit bergairah (sedikit, ga banyak!).

Dia naik ke atas tubuh gw, menggesek-gesekkan itunya ke belahan pantat gw.. gw memberi jalan, dan si tukang pijet itu mengerti kalo itu saatnya dia menunggu. Saat si tukang pijet itu sudah ke bilik sebelah tempat si pendekar td pijet, si pendekar dengan lincahnya langsung menggigiti bagian pantat gw, dan sedikit memainkan lidahnya ke lubang gw. Oh My God… It’s so Great. Terus, dia mulai mencoba memasukkan itunya ke lubang gw… Ya udah, gw biarin, namun tak lama, karena tiba-tiba gw teringat bahwa gw masih belum tuntas menikmati pijetnya. Gw akhirnya berkata kepada dia untuk menunggu. Untunglah dia mengerti.

Gw menyelesaikan pijet gw, begitu pula dia. Dan usai tukang pijet gw mengakhiri pijetannya ke gw dan keluar, si pendekar itu langsung mendekat ke gw. Gw perhatiin dari tadi, si pendekar ini ternyata sedikit eksebisionis. Dia tidak bermaksud menutup dan mengunci pintu bilik pijetnya. Bagus juga, karena gw menikmati semua mata yang mengintip, apalagi kalo yang mengintip cakep… Hei, kenapa harus ngintip? Come and join us!

Saat si pendekar sudah mulai melakukan foreplay ke gw, gw menangkap sesosok bayangan yang mengintip dari bilik sebelah. Segera gw katakan ke si pendekar, “kayaknya yang disana cakep deh.”

si pendekar menoleh, dan tidak menemukan siapa-siapa, namun segera gw dorong dia untuk keluar dan mencari sosok yang tadi mengintip. seperti yang gw bilang dia tidak merasa malu untuk menutupi bagian itunya. Bahkan ia sampai menuju ke ruang sebelah untuk mencari orang yang gw maksud. Dan ternyata, benar. Ada satu orang, lumayan cakep, dan ia menurut saja saat ditarik oleh sang pendekar.

Segera ‘kebinalan’-gw dimulai. gw meminta ia melepas seluruh pakaiannya, dan untungnya dia tidak menolak. segera saja kami bertiga ke dalam formasi ‘bayi’ yang tak mengenakan sehelai pakaianpun. ternyata, itu si bintang tamu panjang dan besar meski tidak terlalu hairy. jadilah gw dan pendekar jongkok di depannya untuk bergantian memasukkan batang itu ke dalam mulut kami. namun tak lama, karena si tamu lebih memilih untuk memasukkan batangnya ke anu kami.

akhirnya gw ngalah, dan berbaring di atas ranjang dengan posisi kaki ke atas dan membuka lebar. si tamu memakaikan kondom ke itu-nya dan dengan bantuan minyak pijat, ia memasukkan itunya ke anu gw. rasanya gimana gitu. sementara gw di-gitu-in, si pendekar berdiri di sebelah gw, menjilati puting susu gw dan puting susu si tamu. namun tak lama, si tamu memutuskan untuk menjadikan pendekar sebagai bottom-nya. meskipun si pendekar nolak-nolak, namun si tamu tetap keukeuh, dan akhirnya pendekar pun ngalah. gw bangkit dari tempat tidur, dan pendekar menggantikan gw. rupanya si pendekar ini termasuk orang yang jarang dimasukin sehingga saat si tamu hendak memasukkan itunya ke anu si pendekar, si pendekar merintih-rintih memohon agar si tamu tidak melanjutkan. Hohohoho.. kamu salah, pendekar. seorang top semakin ia mendengar rintihan memohon agar tidak dimasukkan malah semakin semangat untuk membenamkan itunya lebih dalam. dan itu juga berlaku buat si tamu. ia makin ganas membenamkan itunya ke anu si pendekar. dan gw hanya menyaksikan saja.

dan akhirnya memang itu yang selanjutnya terjadi. si tamu lebih semangat bermain dengan si pendekar. gaya berdiri, jongkok, dan gaya pendekar-on-top dilakoni semua, sementara gw hanya menjadi penonton. lebih menyenangkan. apalagi si tamu ternyata orang yang cukup kuat untuk tidak orgasme sehingga si pendekar sampai nyaris nangis-nangis karena sudah kecapaian dan lubang anunya udah perih. hingga akhirnya si tamu mendorong pendekar dan menyuruh pendekar dan gw untuk jongkok di hadapannya sementara ia mengocok-ngocok itunya. Dan keluarlah air itu dari itunya, yang sayangnya tidak banyak. kebanyakan jatuh ke pendekar yang langsung menyapukan tumpahan air itu dengan tangannya dan membersihkan tangan itu dengan lidahnya. sementara gw cukup menjilati sisa-sisa air yang ada di ujung itunya.

kami bertiga sama-sama puas, dan hanya gw yang tidak keluar saat itu. tapi biarlah. gw emang ga suka keluar di tempat umum! hehehehe

Mungkin agak heran, kenapa kok tulisan ini sepertinya bertentangan dengan tulisan saya sebelumnya yang berjudul JALAN LURUS . Tulisan ini saya buat sebelum saya menulis JALAN LURUS, dan sudah lama tersimpan di draft, hingga akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan tulisan ini. Maaf ya…

Jalan Lurus

•20 Januari 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Jalan Lurus

Banyak yang melecehkan, bahkan diriku sendiri juga mempertanyakan kesanggupanku ketika aku berkata, ” I’ve had enough of this kind of life! I wanna out of here!”

Bisakah?
Bisakah aku melaksanakannya?

Sebenarnya apa yang kucari?
Berkenalan dengan orang-orang yang baru, dengan persepsi negatif di pikiranku terhadap mereka.. (sorry, maksudku persepsi negatif ini adalah keinginanku untuk ML ama mereka.).
Sepertinya melelahkan, dan tiada henti…

Aku hanya ingin pulang ke rumah, menemukan seseorang yang mencintaiku, yang mengerti dan membutuhkanku…

Dimana saat itu ku yakin, aku tak butuh untuk mencari yang lain lagi…

Dear God,
Ih-dinas-sirhathall-mustaqiiim..
hanya doa seorang hamba-Mu yang sangat tersesat….


help

No results for “Jalan Lurus” were found in English

.:Mas_NDon Indonesian to English Di…
jalan lurus
straight on
my child #10

help

No results for “Jalan Lurus” were found in English

.:Mas_NDon Indonesian to English Di…
jalan lurus
straight on
my child #10

Shockin’ News…

•20 Januari 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Red Ribbon Awareness

Jujur, kaget aku saat bercakap-cakap dengan Ibu D pagi ini.
“Masa’, Bu?” tanyaku, tak percaya mendengarnya.
“Iya… dia kan meninggalnya karena HIV, mas… makanya oleh perusahaan asuransi klaim-nya ga bisa dibayarkan.”

Waduh, serem juga ya? Ternyata salah satu orang yang aku kenal, rekan kerja di kantor yang dulu itu meninggal karena virus mematikan itu. Aku langsung membayangkan figur temenku itu. Dia keliatannya baik-baik aja, sehat, termasuk yang sering bertengkar dengan aku secara profesional (urusan kerjaan, maksudnya). Betapa hati ini trenyuh, ternyata ia menderita penyakit yang belum ada obatnya itu.

Terus Ibu D melanjutkan, “Aku langsung kasian, mas, begitu tau kalo dia baru saja menikah. Gimana ya istrinya?”
Wah ini lagi. Lebih soe kalo orang Manado bilang. Iya ya, kasian istrinya. Apakah dia tahu?

Well, apapun penyebab dikau terkena penyakit itu, beristirahatlah yang tenang disisi-Nya, temanku…

Kuharap aku tidak mengalami hal-hal sepertimu…

Si Satpam Itu…

•10 Desember 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Satpam

Ada satu satpam di area kantorku…

Asli, bukan tipe-ku, berbadan sedang, putih, dan seemingly hairless… Not my type! Tapi entah kenapa akhir-akhir ini, aku suka aja melihatnya. Kenapa?

Well, jawabannya sebenarnya sederhana. Aku suka memperhatikan dia saat dia sedang buang air kecil.  Mungkin dia cenderung eksebisi alias exibisionist, yang cenderung suka mempertontonkan alat kelaminnya ke orang lain, or hanya sekedar over pe-de menjulurkan titit-nya ke luar dengan posisi wide open saat pipis. Well, sebenarnya sih dibilang gede-gede amat sih enggak, cuma kalo dibilang kecil ya enggak juga. Sedeng lah!

Jadi, disitu awal mulanya. Kuperhatikan saat ia pipis, ternyata masih tradisional. Sabuk satpam-nya dibuka, kemudian celana dibuka,  lalu celana dalam sedikit diturunkan, dan akhirnya titit dikeluarkan. Kalau beruntung, bisa melihat pubic hair-nya. Tapi kalo enggak, cukup kepala titit-nya yang berwarna coklat dengan sedikit tanda itu juga sudah cukup memuaskan kok.

Pada awalnya, dia cenderung malu dan diam kalo pas kami berpapasan di WC. Aku pun juga tidak mau terlalu keliatan kalo aku menikmati alat kelaminnya itu, namun akhir-akhir ini sepertinya dia sudah cukup nyaman dengan kegiatan contek-mencontek-ku… Terbukti dengan sikapnya yang tidak berubah saat aku iseng melemparkan pandangan ke arah itunya, dan merampok segala pemandangan yang ada…  Dan dia juga sudah mulai mau ngobrol ama aku..

Hmm… si Satpam itu bikin pikiranku jadi gimana gitu…

Ah, sudahlah, cukup sampai disitu, ga mau jauh2.. ntar malah kehilangan semua-nya lagi…

Kucing Pergi, Tikus Berpesta

•6 Desember 2007 • 1 Komentar

Sebegitu nakalnya kah aku sampai aku mengumpamakan diriku adalah tikus yang akan berpesta saat kucing (begitu kuanggap bf-ku dalam konteks ini) pergi?

Sepertinya semua pikiran nakalku menjadi semakin kreatif ketika Kucing tidak ada. Yang ada dalam pikiranku hanyalah: Just do it quick, save, and untraceable… Hmmm.. sounds interesting hah? Pikiranku mencoba menelusuri seluruh address book dari hp-ku. Kira-kira mana yang bisa memberikan keju disaat sang Kucing tidak ada? Oh My God, it’s not just Kucing Garong.. now the song is Tikus Garong!

Biasanya, aku lebih memilih menggunakan jasa profesional daripada mengandalkan nomor dari handphone. Bukan apa-apa, mereka tidak terlalu banyak tanya, dan komitmen pada kepuasan adalah nomor satu. You don’t have to expect them to call you, or share your experience with them to everyone… It’s just between you and them…

Kadang-kadang, keju di refrigerator hypermarket lebih menarik ketimbang keju di kulkas rumah…. boleh dong, sekali-kali membeli dan mengincipi…

(Pembenaran terhadap diri sendiri)

Cat and Mouse

kelakuan si tikus garong… o..o… kamu kettahuaan… selingkuh lagi, dengan siapa… aku tak tahu….

Fantasi

•6 Desember 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pissin’

So many fantasies, so little time, so strict boyfriend…

Harusnya gw bersyukur.. punya pacar seperti pacar gw yang sekarang. Meskipun dia setia dan lurus-lurus aja, namun dia rela untuk melakukan hal-hal yang aneh hanya karena permintaanku.

Aku banyak gagasan dan fantasi untuk melakukan hubungan sex yang tak terbayangkan… Dan untungnya dia cukup sabar untuk menanggapinya, meskipun dia anggap itu merupakan hal yang aneh dan menjijikkan. Seperti golden shower… Seperti threesome. Itu adalah gagasanku. Dia tidak pernah membayangkan untuk melakukannya. Namun dengan liciknya aku bisa mempengaruhinya sehingga ia kini juga menikmatinya…

Ah, jahatnya aku…

Dan betapa dia sudah berusaha untuk melawan hati nurani-nya demi menuruti keinginanku… Namun tetap saja… aku merasa masih ada yang kurang…

Kurang banyak…!!!

Hahahaha..

Indahnya Ibadah Jum’at

•30 Nopember 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Siapa bilang saya tidak tunduk kepada Tuhan…

Setiap Jum’at jam 11.30 siang, saya dan teman-teman bergegas menuju ke ballroom
gedung perkantoran yang setiap jumat selalu disulap menjadi masjid untuk jumatan.
Dengan hawa yang adem, sejuk, dan karpet yang empuk, ajang sholat Jum’at tidak bisa
dikatakan penderitaan. Seperti teman saya, dia akan langsung memejamkan mata dan
tidur dengan nafas yang teratur, dan baru tergagap setelah dibangunkan ketika Iqamat
sudah dikumandangkan.

Beruntungnya dia bisa tidur. Saya tidak bisa, karena itu berarti saya akan terbangun dengan perasaan yang tidak nyaman, kaki semutan bahkan cenderung kram, dan pegal-pegal. Makanya saya memilih untuk tetap bangun, meskipun tidak mendengarkan
ceramah secara kusyuk.

Namun ketidakbisatiduran saya itu saya manfaatkan dengan mengeluarkan gaydar saya.
sebenarnya bukan gaydar, melainkan hanya melayangkan pandangan mencari good view.
Banyak muslim-muslim cakep di masjid, dan kebetulan emang saya hanya ’on’ kalo ama
sesama muslim, hehehe… bukan apa-apa, ciuman ama mereka pasti dijamin halal.. hihihi..
Kembali lagi  ke muslim cakep. Banyak banget. Saya melihat muka-muka chubby dengan
bekas cukuran di pipi dan dagu mereka, yang selalu bikin saya deg-degan kalo melihatnya. Belum lagi kalau menemukan lengan mereka yang kokoh dan ditumbuhi oleh bulu-bulu halus ataupun yang agak lebat. Aduh rasanya mau orgasme gimana gitu…

Namun, seperti biasanya, hanya memandangi, memuji dalam hati, ga berani bertindak
lebih jauh n lebih lanjut. Enough is enough. Itu termasuk ujian dari Yang Maha Kuasa. Ga
boleh ngapa-ngapain, cukup dipandangi saja.

Tapi bukan itu saja… ibadah Jum’at masih tetap terasa indah meskipun sudah selesai.
Biasanya, setelah jumatan,  usai berdoa, saya selalu menyempatkan diri untuk ke toilet. Meskipun sebenarnya kadang tidak terlalu kebelet, namun sayang banget kalo moment seperti ini dilewatkan. Saat di toilet ini, begitu banyak yg menerapkan buang air yang baik dan benar ala muslim, sehingga kadang bikin jakun ini naik turun, oh my God!

Bagaimana buang air (kecil) yang benar?
Pertama, angkat baju dan cegah baju itu turun dengan menggunakan leher (dijepit dengan
leher)… disini anda bisa melihat wilayah pusar (kalo ada rambut keritingnya.. oh sungguh sexy…)
Kedua, buka sabuk celana, kait celana, dan resleting, sehingga area celana dalam terbuka
(anda bisa melihat celana dalam dan cetakan dari penis)…
Ketiga, turunkan celana dalam sedikit sehingga penis anda bisa mengeluarkan kandungannya… (so sexy…)

Dan saat itulah saat yang paling sexy dari seorang pria…
Menampakkan ke-jantan-an dia dengan anggun… apalagi kalau pubic hair masih lebat, oh sungguh sexy… (jadi horny sendiri!)

Dan itu bisa disaksikan dengan nikmat… tanpa tertutupi…

Itulah indahnya ibadah Jum’at.