Massage Center
Seperti yang udah aku bahas di tulisanku sebelumnya, kali ini aku hanya ingin sedikit berbagi.. dimanakah aku menemukan para profesional-profesional muda yang membantuku untuk mengincipi sedikit rasa keju dari mereka… wahai diriku sang tikus garong?
Tidak perlu bingung mencari…
Aku biasanya menemukannya di Massage Center… alias Panti Pijat.
Lebih mudah, bisa diprediksi harganya, you can even pick your own massage boy…
Langgananku biasanya ada 3 (tiga) tempat. Masing-masing punya keunikan tersendiri. Mari kujelaskan disini.
[Tempat Pertama]
Aku menemukan tempat ini di lembaran koran yang kubeli di pojokan lampu merah. Tempatnya menempati sebuah rumah kontrakan dengan 2 (dua) kamar. Aku ga pernah menemukan tukang pijat lain selain satu orang itu, dan aku tidak pernah kecewa dengan pijetannya. Pijetnya enak dan p*n*s-nya lumayan gede. Rasanya bisa merem melek kalo lagi di t*mp* ama dia.
Point Plus-nya: satu hari pernah datang kesana, lagi dit*mp* tiba-tiba datang satu customer yang tipe-ku banget. Akhirnya aku mengundang dia untuk ikutan, dan diapun setuju.. What a nice moment… Sayang, aku jarang menemukan moment ini lagi…
[Tempat Kedua]
Tidak begitu jauh dari tempat pertama, dengan jasa pemijat yang berbeda-beda. Aku pernah nemu satu tukang pijet yang ukurannya gede banget (sampai pusing dan mules)! Tapi, aku sendiri sebenarnya tidak menemukan apa-apa yang menarik (karena meski itunya gede, tapi orangnya kurus), selain tempat pijatnya yang juga menjadi tempat pijat umum, sehingga membuat aku bisa menengok aktivitas di kamar sebelah. Kalau beruntung, aku bisa melihat tetangga lain Making Love or kalo tidak begitu beruntung, bisa lihat t*t*t orang saat dipijet. Very nice…
[Tempat Ketiga]
ada satu tempat yang merupakan tempat pijat yang dilakukan oleh tuna netra. namun semua pengunjungnya adalah kaum [begini] . terkadang, saat dipijat, kita bisa melihat tetangga sebelah yang dipijat secara bugil. kalau beruntung dan tetangga sebelah itu cocok dengan selera kita, usai dipijat kita bisa melanjutkan ke level yang lebih. lumayan, orangnya ga itu-itu aja.
Hmmm.. gimana?
Mungkin agak heran, kenapa kok tulisan ini sepertinya bertentangan dengan tulisan saya sebelumnya yang berjudul JALAN LURUS . Tulisan ini saya buat sebelum saya menulis JALAN LURUS, dan sudah lama tersimpan di draft, hingga akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan tulisan ini. Maaf ya…

Tinggalkan Balasan